Laman

Minggu, April 24

bojong gede express

Hari pertama di bulan April biasanya disebut dengan April Mop. Hari dimana semua orang diperbolehkan berbohong kepada siapa saja tentang apa saja. Tak heran jika di hari tersebut banyak berseliweran berita “ajaib” terutama mengenai “wafatnya” selebriti dunia.
Namun untuk 1 April 2011 ini, harapan para pengguna KRL Express (Pakuan/Depok/Bekasi/Serpong) agar berita mengenai penghapusan KRL Express adalah April Mop tidak menjadi kenyataan. Dalam beberapa hari terakhir, sudah tampak spanduk dan pengumuman yang intinya memberitahukan kepada seluruh calon penumpang KRL Express bahwa terhitung sejak 1 April 2011 (dalam pengumuman hanya sampai 30 Juni 2011), KRL Express akan berhenti di tiap stasiun dan tarifnya turun menjadi Rp 7.000 (dari Rp 11.000 - Pakuan). Dengan kata lain, operasional KRL Express akan seperti AC Ekonomi namun dengan tarif yang lebih tinggi.
Penghentian trayek KRL Express ini merupakan langkah awal pembenahan kereta api yang dilakukan oleh PT KAI melalui PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sebagai anak perusahaan PT KAI yang mengelola operasional KRL. Langkah berikutnya adalah penyederhanaan trayek kereta menjadi 5 trayek dimana rute-rute jauh (Bogor-Depok-Bekasi) akan berhenti sampai Manggarai. Selanjutnya mereka akan melanjutkan dengan kereta lain menuju Jakarta Kota - Tanah Abang.
Penggunaan KRL Ekspress diawali dengan rute Bogor - Jakarta Kota, Depok - Jakarta Kota dan Bekasi - Jakarta Kota. Pada awalnya kereta express didesign untuk pengguna yang membutuhkan waktu cepat tiba di Jakarta sehingga kereta ini tidak berhenti disemua stasiun namun hanya berhenti di Gambir dan Jakarta Kota saja. Kereta yang digunakan masih seperti kereta bisnis yang duduk berhadap-hadapan dan gerbongnya tanpa AC hanya dilengkapi kipas angin.
Perubahan pola operasional KRL express mulai berubah ketika di akhir tahun 90-an PT KAI mendapatkan hibah KRL bekas dari Jepang. Penambahan gerbong otomatis menambah jam perjalanan KRL express sehingga beberapa rute baru dibuka dan penambahan perjalanan untuk rute lama. Rute ke Tanah Abang yang berhenti di stasiun Sudirman (dh Dukuh Atas) merupakan salah satu pembukaan rute KRL Express yang paling sukses karena diminati para pekerja yang mayoritas berkantor di daerah Sudirman/Thamrin dan Kuningan.
Sukses dengan operasional KRL bekas, PT KAI mulai mengimpor sejumlah KRL Bekas dari Jepang untuk digunakan sebagai KRL express dan AC Ekonomi. Pada tahap inilah, saya melihat adanya keseriusan PT KAI untuk membenahi transportasi kereta menjadi transportasi masal yang manusiawi dan dapat diandalkan oleh pemakainya.Penambahan perjalanan, pembukaan rute baru (Bojong Gede Express, Serpong) serta mulai berhentinya KRL Express di satu/dua stasiun setelah titik awal pemberangkatan membuat KRL Express makin di minati oleh pengguna terutama setelah kondisi jalan raya yang makin macet dan harga BBM yang makin naik.
Namun banyaknya perjalanan KRL Express memakan korban saudara tuanya, KRL Ekonomi. KRL ini makin sedikit jumlah perjalananya dan seringkali harus menunggu di stasiun besar (Depok/Pasar Minggu/Manggarai) untuk disusul oleh KRL Express. Tak pernah saya bisa bayangkan jika seandainya saya berada di dalam kereta tersebut, berdesak desakan tanpa adanya AC/Kipas Angin menunggu kereta tsb disusul KRL Express yang membayar lebih mahal.
Semangat PT KCJ dalam membenahi perkeretaapian patut dihargai. Keinginan mereka agar menjadikan kereta sebagai moda transportasi handal (dengan headway 5 menit) patut diapresiasi oleh semua pihak. Keinginan mereka untuk menjadikan semua KRL yang beroperasi adalah KRL yang ber-AC merupakan keinginan manusiasi dari pengelola kereta.
Namun KCJ perlu berhitung bahwa ada tiga keunggulan KRL Express. Yang Pertama waktu. Yang kedua waktu dan yang ketiga waktu. Waktu yang pertama adalah waktu tiba di kantor yang jauh lebih cepat jika dibandingkan menggunakan mobil. Waktu kedua adalah waktu tiba di rumah setelah beraktivitas di kantor. Dan waktu ketiga adalah waktu dalam artian umur. Menggunakan KRL berarti penggunanya tidak akan tua di jalan.
Penghapusan pola KRL express berpotensi menggeser pengguna ke moda transportasi pribadi seperti mobil. Tidak ada keunggulan mutlak lagi antara menggunakan mobil dan kereta. Saya sudah mencoba, jika dari Bogor saya menggunakan mobil pribadi dan berangkat jam 05.30, saya bisa tiba di Gatot Subroto jam 07.00 (kebetulan rumah dekat dengan tol baru jadi bisa langsung masuk tol tanpa perlu ke tengah kota Bogor dahulu). Jika saya menggunakan KRL, saya naik jam 06.00 dan tiba jam 07.15. Dengan pola baru yang harus berhenti di tiap stasiun, maka saya membutuhkan 30 menit lebih lama yang berarti sama dengan menggunakan mobil pribadi. Untuk tiba sekitar jam 07.00 -07.15 di daerah Gatot Subroto, saya harus naik kereta lebih pagi sekitar jam 05.30 yang berarti sama dengan naik mobil pribadi.
Daripada energy PT KCJ tersedot dengan pola pengoperasian baru, jauh lebih baik PT KCJ melakukan perbaikan sarana perkeretaapian sehingga pengguna kereta api bisa menikmati stasiun yang nyaman (seperti stasiun Sudirman), menikmati KRL yang bebas gangguan wessel, menikmati KRL yang bebas banjir dan menikmati KRL yang tepat waktu.
Ingat…. Memperpendek headway menjadi 5 atau 10 menit berarti menambah kemacetan jalan mengingat masih banyaknya persimpangan antara jalan dan kereta api. Banyak persimpangan yang belum dijaga yang berarti banyak kemungkinan terjadi nya tabrakan antara KRL dan mobil/orang

Sabtu, April 23

HUNIAN KONSEP HIJAU MODERN NATURALIS

Saat ini Kabupaten Bogor Kec. Bojong Gede berkembang dengan pesat, lonjakan penduduk, polarisasi pembangunan, dan masuknya investor sangat berdampak pada peningkatan perekonomian rakyat.
Perkembangan kegiatan infrastruktur menyebar ke seluruh bagian Kabupaten, terutama pada jalur-jalur utama menuju keluar Kabupaten. Daerah tersebut sebelumnya merupakan daerah tanah tidak aktif saat ini telah berubah, tumbuh menjadi daerah pemukiman masyarakat. Perkembangan yang terjadi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam rencana umum tata ruang (RUTR) Kabupaten Bogor.
Pada sisi lain, pemerintah Kabupaten Bogor telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dengan merencanakan perkembangan perumahan pada daerah-daerah yang telah ditentukan salah satunya pada daerah kecamatan Bojong Gede.
Kawasan ini merupakan salah satu wilayah yang pertumbuhan penduduknya paling pesat di daerah Bogor bagian Utara. Lokomotif yang menggerakkan kawasan ini menjadi kawasan pemukiman baru adalah jalur kereta api Jakarta-Bogor dimana stasiun Bojong Gede titik terpentingya dengan kereta khusus Bojong Ekspress menambah pesatnya pertumbuhan daerah ini. Dan akses jalan raya terdekat adalah Jalan Raya Bogor dan jalan tol Jagorawi
Kondisi tersebut mendorong kami selaku pengembang perumahan ikut berpartisipasi membangun suatu lingkungan perumahan yang aman, nyaman, dan berwawasan lingkungan serta sesuai dengan tata ruang Kabupaten. Proyek ini dinamakan “Perumahan Bojong Gede Green Park”.
Perumahan Bojong Gede Green Park terletak di jalan Tonjong Raya,Kp.Lio Kelurahan Kedung Waringin Kecamatan Bojong Gede Kab. Bogor dengan jalur utama kereta komuter lintas selatan, 400 meter dari Stasiun Kereta Api Bojong Gede. Areal yang akan dikembangkan adalah seluas kurang lebih 10.130 m2.